Resensi The Aviator




2004
Miramax
Jenis: Drama
Sutradara: Martin Scorsese
Pemain: Leonardo DiCaprio, Cate Blanchett, Kate Beckinsale, John C. Reilly
Penulis: John Logan
Sinematografer: Robert Richardson
Musik: Howard Shore
Durasi: 169 menit
MPAA Rating: PG-13

Leonardo DiCaprio diibaratkan sebagai Robert De Niro masa kini. Bukan karena fisik atau aktingnya—Leo belum pernah Saya lihat berakting total seperti De Niro dalam Raging Bull, dan Bobby rasanya tidak mendapat nominasi oscar saat dia masih kecil. Tapi karena mereka berdua adalah anak emas sutradara legendaris Martin Scorsese dalam era mereka masing-masing. Leonardo DiCaprio sepertinya sudah menerima “kontrak jangka panjang” Martin Scorsese.

DiCaprio adalah pemeran utama film blockbuster dunia, dan Martin Scorsese yang dari dulu sudah dikenal sebagai salah satu sutradara paling hebat—tetapi tidak pernah menang oscar (akhirnya baru lewat The Departed, AMPAS akan jadi bahan lelucon kalau tidak memenangkan Scorsese). Setelah kerja sama mereka Gangs of New York yang cukup sukses, mereka kembali bersama di sebuah film biopic mengenai salah satu orang paling berpengaruh abad 20.

Howard Hughes (Leonardo DiCaprio) adalah seorang pengusaha sukses asal Texas. Dia adalah sutradara film—film epik besar pertama sejak jaman film bersuara, Hell’s Angels yang sempat mencetak film termahal dunia, dan film western pamer payudara, The Outlaw. Dia juga merupakan produser film—yang paling terkenal adalah Scarface versi asli tahun 1932 dengan sutradara Howard Hawks. Dan, kecintaannya terhadap penerbangan membuatnya dirinya bangga dijuluki Sang Penerbang. Film ini adalah mengenai karirnya yang penuh pertaruhan besar dalam perfilman maupun industri pesawat, kisah cintanya yang penuh petualangan, dan penyakit yang dideritanya.


Sebagai film yang memiliki target oscar, jujur saja The Aviator sangat menghibur dan menegangkan. Entah itu saat dia kecelakaan di pesawatnya maupun courtroom dramanya. The Aviator lebih bercerita tentang siapa itu Howard Hughes, bukan bagaimana pengaruh Howard Hughes. Satu bagian mengerikan ketika penyakit Hughes mulai kumat. Dia menyendiri dalam kamar yang ditempati dan mulai mengkhayal—satu monolog tentang susu yang terletak di kamarnya. Dia terlalu khawatir dengan kebersihan—walaupun dirinya sendiri tidak 100% higenis. Betapa tertekannya Tuan Hughes. Memiliki uang milyaran dollar tetapi tidak berani menyentuh gagang pintu. Terkadang, Saya jadi teringat dengan diri sendiri. Saya pernah selalu membawa sabun setiap kali pergi—untungnya Saya tidak cuci tangan sampai berdarah.

DiCaprio tampil dengan kuat sebagai Howard Hughes yang eksentrik. Film ini bagus di bawah arahan Scorsese. Mungkin karena Scorsese tahu esensi film dan kehidupan Hollywood sebelum era emasnya. Ini melukis kembali kehidupan Hollywoodland dekade 1920-1940an. Hughes pria penuh petualangan. Petualangan cintanya juga menjadi sorotan film ini. Contoh saja: Pertama kali, saat pemutaran pertama film Hell’s Angels, Hughes terlihat membawa sang bintang, Jean Harlow (Gwen Stefani) ke karpet merah. Yang paling berkesan, aktris pemborong oscar, Katharine Hepburn diperankan secara brilian oleh Cate Blanchett (apa dia reinkarnasinya?). Ava Gardner yang diperankan Kate Beckinsale, Kelli Garner sebagai Faith Domerque. Dan cameo Jude Law sebagai Errol Flynn yang terkenal berpasangan dengan Olivia De Havilland dalam layar. Oh, mereka itu tokoh asli, asal Anda tahu.

Pertama, The Aviator adalah mengenai karir Hughes sebagai seorang sutradara. Dia membuat film pesawat perang dunia pertama Hell’s Angels selama dua tahun. Pesawat-pesawatnya sangat mahal dan yang memancing kontroversi bagi petinggi-petinggi studio, dia sudah memakai 24 kamera untuk adegan klimaksnya, dan masih perlu dua lagi! Untung filmnya sukses. Selanjutnya, The Aviator mulai memasuki konflik utama filmnya: penerbangan. Walaupun untuk selanjutnya, diperlihatkan masa Hughes saat memperjuangkan film western nakalnya, The Outlaw. Saya lihat filmnya tidak banyak mendapat respon positif, tetapi untuk rilisnya, Hughes sampai berdebat dengan MPAA hanya karena masalah lebar payudara Jane Russell.

Banyak adegan yang menarik. Ironisnya, melihat Howard Hughes membuat film justru lebih menarik daripada melihat dua film yang dibuat Hughes itu. Hughes digambarkan sebagai pria ambisius, seorang penjudi besar—antara kaya raya dan jatuh miskin saja, dan penuh semangat remaja—ini masa-masa ketika Hughes remaja. Jiwa berpetualangnya itu memikat hati Katharine Hepburn. Diakui oleh mereka, jiwa seorang Hughes berbeda dengan Hepburn yang “hanya” seorang bintang film. Hubungan mereka tidak bisa berlangsung lama. Sampai Hepburn berpasangan dengan Spencer Tracy seperti yang kita ketahui bersama. Tidak semua orang juga suka sifat Hughes yang eksentrik dan playboy itu.

Sesuai judulnya, masalah terbesarnya datang dengan pertaruhan terhadap proyek besar-besarannya tentang model pesawat-pesawat penemuannya. Noah Dietrich (John C. Reilly) adalah banker Hughes. Hughes membayarnya lebih banyak agar Dietrich bekerja lebih keras. Sebenarnya Dietrich justru dipakai sebagai mesin penjawab dan kalkulator saja. Begitu juga dengan professor (Ian Holm), seseorang yang bertugas mencarikan awan untuk Hell’s Angels dan ikut memperjuangkan The Outlaw itu. Sebagai tokoh “antagonis” adalah Senator Owen Brewster (Alan Alda) dan ketua An Am, Juan Trippe (Alec Baldwin). Mereka berdua juga tampil bersinar. Merancang hotel terbang seperti Hercules itu membutuhkan perjuangan. Hughes. Hughes sempat dituduh mengambil keuntungan dari perang.
Satu hal yang sedikit mengganjal adalah endingnya. Sebelum Saya bisa menyimpulkan sendiri, Hughes adalah tipikal orang kaya yang bukan orang kaya. Dia kerap mengulang-ulang omongannya dan akan sangat memalukan jika orang melihatnya seperti itu. Jadi Saya berkata, ini adalah film tentang siapa itu Howard Hughes. Bukan juga sebenarnya, apa yang dilakukan Howard Hughes.

0 comments:

Post a Comment